Posted by: asalusil | December 26, 2008

la taghdab…

Pagi ini, sehabis sholat shubuh biasa saya dan eyang saya berdiskusi sambil keliling di komplek. Ada hal menarik yang kemudian saya utarakan kepada eyang saya. Dalam memimpin, saya melihat sosok eyang saya adalah sosok yang patut ditiru. Sosoknya yang tenang dan cepat dalam mengambil keputusan serta tidak ingin menyusahkan orang lain menjadi inspirasi bagi diri saya. Sebagai informasi eyang saya ini berumur > 80 tahun, pensiunan AURI dengan kesibukan saat ini adalah membuat buleting mesjid, bulletin paguyuban pensiunan AURI dan berkorespondensi dengan rekan-rekan nya di Jakarta via internet. Sebuah effort yang luar biasa bagi orang seumuran beliau.

Lalu muncul pertanyaan dari saya, selama ini saya melihat eyang terlihat tenang dalam menghadapi masalah-masalah yang ada di rumah seperti genteng bocor, pompa air mati, biaya bulanan yang meningkat, anak-anak kucing yang mengotori rumah dll, namun semua itu ditanggapi dengan tenang dan sabar. Pertanyaanya adalah bagaimana menghadapi masalah dengan tanggap dan tanpa mengeluarkan emosi. Karena bisa jadi ketika kita menjadi seorang pemimpin maka kita diberika otoritas dan kekuasaan untuk mengatur orang-orang yang berada di bawah kita bagaimanapun caranya, termasuk mengeluarkan emosi (marah).

Ternyata jawaban beliau sangat sederhana, coba kamu posisikan dirimu sebagai bawahan, apakah kamu suka kalau melihat atasan mu marah. Kalau kamu tidak suka, maka jangan kamu ikuti. Tentunya marah disini adalah marah yang tidak proporsional, marah yang bukan pada tempatnya. Karena ketika kita marah cenderung akan menyempitkan pikiran dan membuat keputusan yang kita lakukan tidak rasional.

Hal ini senada dengan hadist rasulullah

Abu hurairah R.A. menerangkan bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW. “Berilah aku nasehat.” Maka beliau menjawab,”Jangan marah.” Maka diulanginya beberapa kali , kemudian Nabi bersabda , “Jangan marah!” (H.R. Bukhari)

Dari pernyataan diatas sungguh jelas bahwa menjadi seorang pemimpin diperlukan sebuah kearifan dan kebijaksanaan. Karena kita berhadapan dengan orang lain yang mereka tentunya memiliki hati dan persaan.

Satu hal yang perlu diingat juga adalah, tenang bukan berarti lambat dalam mengambil keputusan, tetapi mengesampingkan emosi dan mencoba mendudukan masalah secara proporsional dan kemudian mengambil keputusan dengan cepat. Karena kunci dari kepemimpinan adalah di keputusan.

Sebagai ilustrasi tambahan, dalam beberapa hari terkahir sebelum wafat, Rasulullah sempat memimpin shalat berjamaah bersama para sahabat walaupun dalam kondisi sakit. Setelah memimpin sholat, beliau bertanya kepada para sahabat.”wahai sahabatku, adakah di antara kalian yang pernah merasa di sakiti oleh ku?”,’jika ada di antara kalian yang pernah disakitiku ,maka kalian bisa membalasnya saat ini juga”. Para sahabat yang mendengar pernyataan tersebut kaget dan merasa malu. Di tengah keheningan, muncul satu sahabat yang kemudian menuntut balas kepada Rasulullah. “Ya Rasulullah, sesungguhnya dahulu kau pernah mencambuk diriku, maka hari ini aku akan menuntut balas pada mu ya Rasul.”. Abu Bakar yang mendengar pernyataan beliau langsung marah, dan bermaksud menggantikan Rasul. Jawaban dari Rasul adalah “biarkan saya yang dihukum”. Dan sahabat tadi pun mengatakan bahwa ketika dia di cambuk, dia dalam keadaan tanpa baju. Maka Rasul pun membuka bajunya. Seketika itu juga para sahabat menangis dan tak kuasa menahan amarahnya. Maka ketika di pegang cambuknya oleh sahabat tersebut, dan didekatinya Rasul, maka dilemparnya cambuk tersebut dan dipeluknya Rasul, seraya berkata, “mana mungkin saya tega mencambuk kulit kekasih Allah yang mulia ini. Saya hanya ingin merasakan kulit mu ya Rasul” dan rasul pun menjawab.”sungguh kau akan termasuk orang-orang penghuni syurga”.(Diambil dari siroh nabawiyah al mubarokfury dengan sedikit ilustrasi)

Dari kisah di atas dapat dilihat sebuah contoh bagaimana kita memandang konsep kepemimpinan. Rasul sebagai seorang pemimpin mencontohkan kepada kita untuk mengevaluasi dirinya dan kemudian melakukan pembalasan atas kesalahannya. Dan ketika ada salah seorang dari pengikutnya yang mencoba membalasnya maka beliau pun konsisten dengan pernyataannya. Dan ketika pengikutnya ternyata hanya sekedar ingin memeluknya, tidak muncul rasa marah atau emosi dari dirinya,yang muncul adalah sebuah doa dan pujian kepada sahabat tersebut.

Sehingga sungguh malu rasanya diri ini, kalau masih ada rasa emosi dan angkuh ketika menerima sebuah amanah atau memimpin orang lain. Baik itu bawahan kita, teman kita, adik kita, atau keluarga kita. Sehingga bagi siapapun yang akan atau sedang menjadi pemimpin, sudah kah kita mengelola emosi kita dengan proporsional?sudahkah kita bisa memposisikan diri kita di hadapan bawahan kita? Sudahkah kita melakukan introspeksi diri kita di mata orang lain?karena sesungguhnya setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya.

Wallohu alam bi showab.

Advertisement

Responses

  1. Assalamu’alaikum. wr wb

    dengan ini saya izinkan saudara mengcopy paste post saya di wisga.wordpress.com… (appan sich ?)

    Salam kenal, keep blogging ! with more touching posts (of course).

    fajar.wisga-MATH-FMIPA-UNAND


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.