Desember 2004, Pagi masih menyisakan embun yang menetes di ujung-ujung daun, namun tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5.30 pagi. Ya, dalam ruangan rapat di lembang berkumpul sekitar 45 orang mahasiswa dari berbagai jurusan di fakultas ekonomi unpad untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan tingkat fakultas (PKPM).
Kami bersama-sama mahasiswa baru lainnya baru saja melaksanakan sebuah simulasi sidang yang sangat melelahkan, baik secara fisik maupun secara mental. Perjalanan sidang yang dimulai pada pukul 8 malam berlarut-larut hingga pukul 8 pagi. Sungguh sebuah tindakan yang menurut saya banyak mubadzirnya dibandingkan manfaatnya.
Namun jika ditarik ke hari ini,maka boleh jadi momentum tersebut merupakan gerbang awal bagi saya untuk kemudian terjun ke dalam dunia mahasiswa. Dengan slogan, PKPM bukanlah segala-galanya tapi segala-galanya berasal PKPM mungkin ada benarnya. Karena rata-rata jebolan PKPM umumnya memegang jabatan di kampus.
Bagi saya dunia mahasiswa adalah dunia pembelajaran. Sebuah model yang menggambarkan miniatur kehidupan di masyarakat dengan segala problem dan permasalahannya. Mulai dari politik, ekonomi, social dan budaya acap kali mewarnai kehidupan saya selama di kampus. Dalam menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa, banyak hal menarik yang saya dapatkan. Pengalaman menjadi seorang pemimpin dalam sebuah organisasi memberikan saya pengalaman yang luar biasa. Menjadi seorang pemimpin adalah menjadi pelayan bagi yang dipimpin, itu adalah pernyataan yang masih terus saya ingat sampai sekarang.
Kegiatan yang seimbang antara akademik, sosial maupun agama menurut saya merupakan sebuah keharusan yang mutlak ada pada diri seorang manusia. Kita dapat memisahkan salah satu saja dari ketiga bagian tersebut. Akademik di representasikan melalui kegiatan perkuliahan maupun kegiatan lainnya yang menunjang peningkatan kapasitas intelektual kita. Social dapat di representasikan melalui aktifitas organisasi maupun komunitas-komunitas yang ada di kampus, hingga muncul istilah manusia kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) atau kunang-kunang (kuliah nagkring-kuliah nangkring) hingga kupu-kupu (kuliha pulang-kuliah pulang). Sedangkan yang terkahir Agama, diwujudkan melalui kagiatan kerohanian baik itu berupa mentoring agama atau pun kajian-kajian keagamaan. Kesemua hal tersebut pada akhirnya akan membuat diri kita memiliki bekal dalam menapaki jenjang kehidupan selanjutnya.
Dari semua hal di atas yang perlu dicatat adalah pentingnya perencanaan dan perumusan konsep hidup. Hidup adalah kumpulan pilihan-pilihan, namun konsekuensi atas pilihan tersebut melekat terhadap pilihan yang kita ambil. Namun banyak dari mahasiswa yang masih belum memiliki perencanaan hidup yang jelas. Bahkan terkadang pilihan untuk memilih jurusan kuliah pun masih sekedar coba-coba atau pilihan orang tua.
Oleh karena itu, sebelum kita menapaki jenjang tangga kehidupan yang lebih jauh maka rencanakanlah tujuan hidup kita sambil kemudian melakukan perbaikan personal terus menerus hingga akhirnya bukan hanya menjadi mahasiswa biasa tetapi menjadi mahasiswa luar biasa…